Laman

Runtuhnya Majapahit

Runtuhnya Majapahit
    Foto Orang Majapahit yang mengungsi & bermukim di Tengger 

Sepeninggal Rajasawarddhana Sang Sinagara pada tahun 1453 dan dicandikan di Sêpang, terjadi perebutan tahta antara putra-putra Krêtawijaya dan Rajasawarddhana Sang Sinagara. Terjadi ketegangan sehingga tahta kosong selama tiga tahun (1453-1456 M). Baru pada tahun 1456, terpilih sebagai Raja adalah Bhre Wêngkêr II, putra sulung Krêtawijaya yang lantas mengambil gelar Hyang Purwa Wisesa. Memerintah hingga tahun 1466 Masehi, wafat dan dicandikan di Puri. Sepeninggalnya, seharusnya tahta dilimpahkan kepada keturunan Rajasawarddhana Sang Sinagara, namun berhasil diduduki oleh putra bungsu Krêtawijaya, adik Rajasawarddhana Sang Sinagara, yaitu Bhre Pandhan Salas III atau Singawikramawarddhana Dyah Suraprabhawa. Selama pemerintahannya, keadaan istana terus terjadi ketegangan, sehingga baru dua tahun menduduki tahta, Bhre Pandhan Salas III meninggalkan istana. Lantas siapakah yang mengantikannya sebagai Raja Majapahit? Apakah keturunan Krêtawijaya atau Rajasawarddhana Sang Sinagara? Penuturan Pararaton terhenti sampai disini.

Baru pada tahun 1486 Masehi, Sri Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya mengeluarkan prasasti Jiyu yang berisi maklumat bahwa dirinya adalah penguasa Wilwatikta (Majapahit), Janggala dan Kadhiri. Disana juga menguraikan pengukuhan ulang hadiah tanah kepada Bharmaraja Ganggadhara yang pernah dilakukan oleh Singawarddhana. Ini membuktikan, bahwa sosok Singawarddhana berkuasa menghadiahkan tanah kepada seorang Brahmana, dan tentunyalah dia seorang Raja. Dalam prasasti Jiyu juga ditegaskan, pada tahun 1486 tersebut adalah bertepatan duabelas tahun wafatnya Singawarddhana sehingga Sri Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya mengadakan upacara Sraddha.

Maka jelaslah sudah, setelah kepergian Bhre Pandhan Salas III, tahta Majapahit berhasil diduduki oleh Singawarddhana hingga tahun 1474 Masehi. Siapakah Singawarddhana? Bisa jadi, Singawarddhana adalah kakak kandung Girindrawarddhana, dan keduanya adalah putra Bhre Pandhan Salas III yang pernah meninggalkan istana Majapahit. Dari sini bisa disimpulkan, setelah kepergian Bhre Pandhan Salas III, tahta lantas direbut oleh Singawarddhana sebelum dikuasai oleh keturunan Bhre Pamotan I Rajasawardhana Dyah Wijayakusuma. Lantas siapakah yang menggantikan Singawarddhana? Tak ada keterangan yang bisa didapatkan. Namun dari catatan China yang ditemukan di Klenteng Sam Po Kong Semarang oleh Residen Poortman pada tahun 1928, diketahui bahwa Raja Majapahit yang memerintah sebelum tahun 1478 Masehi adalah Kung Ta Bu Mi atau Bhre Krêtabhumi. Siapakah sosok ini? Dalam Pararaton nama Krêtabhumi disebut jelas sebagai putra Rajasawarddhana Sang Sinagara.

Dari sini bisa disumpulkan, semenjak kekosongan tahta Majapahit pada tahun 1453-1456, keturunan Rajasawarddhana Sang Sinagara baru bisa memerintah pada tahun 1474 dan berakhir pada tahun 1478 Masehi. Masa akhir pemerintahan Krêtabhumi inilah yang terus menjadi polemik berkepanjangan hingga sekarang. Menurut kronik Tionghwa klenteng Sam Po Kong, kejatuhan Krêtabhumi diakibatkan serangan tentara Demak Bintara. Namun ada juga yang menolak mentah-mentah data ini dan memunculkan hipotesa bahwa Sri Girindrawarddhana yang telah mengeluarkan prasasti Jiyu diatas adalah yang menyerang Krêtabhumi. Hipotesa ini bisa dimaklumi karena jika hal itu benar, maka Jim Bun atau Raden Patah sebagai Adipati Demak yang notabene adalah salah satu pemimpin masyarakat Islam diabad 15, selamat dari tuduhan durhaka kepada Krêtabhumi, ayah kandungnya sendiri yang beragama Siwa Buddha (Buda). Pengkambing hitaman sosok Girindrawarddhana ini terus digulirkan hingga sekarang. Walau cerita tutur masyarakat dari berbagai daerah jelas-jelas menunjukkan Raden Patah-lah yang berhasil menjebol Majapahit, didukung pula oleh berita dalam berbagai Babad Jawa dan juga berita dari kronik Tionghwa klenteng Sam Po Kong, Semarang, namun seolah-olah, data ini hendak ditenggelamkan begitu saja. Girindrawarddhana tetap dianggap bersalah walau data-data belumlah lengkap untuk menghakimi sosoknya.

Salah satu berita yang termuat dalam Prasasti Petak menyebutkan Kadigwijayanira sang munggwing jinggan duk ayun-ayunan yudha lawaning majapahit (“Kemenangan Sang Munggwing Jinggan yang berhadapan dimedan perang melawan Majapahit”).  Menyiratkan ada penyerangan ke Majapahit oleh sosok Sang Munggwing Jinggan. Siapakah Sang Munggwing Jinggan ini? Diperkiraan, Sang Munggwing Jinggan adalah kakak sulung Bhre Krêtabhumi, yaitu Bhre Kahuripan VII Wijayaparakrama Dyah Samarawijaya. Lantas siapakah yang diserang? Tentunya adalah sosok yang pernah merebut tahta Majapahit, yaitu Bhre Pandhan Salas III. Namun bukankah Bhre Pandhan Salas III telah meninggalkan istana semenjak tahun 1468? Padahal prasasti Petak terbit sekitar tahun 1486, seusia dengan prasasti Jiyu? Berarti penyerangan itu terjadi tak jauh dari tahun 1486 tersebut. Dan yang menjadi pertanyaan, mengapa yang menerbitkan malah putra Bhre Pandhan Salas III yaitu Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya yang terhitung rival dari Sang Munggwing Jinggan?

Hal ini menjadi terjawab manakala dicompare dengan informasi dari kronik Tionghwa klenteng Sam Po Kong Semarang. Bahwasanya yang diserang oleh Sang Munggwing Jinggan, adalah sosok Raja boneka Majapahit yang diangkat oleh pemerintahan Demak Bintara, Nyo Lay Wa semenjak tahun 1478 Masehi! Dalam kronik tersebut jelas-jelas menyebutkan, bahwa pemerintahan Nyo Lay Wa memang berakhir pada tahun 1486, sesuai dengan tahun dimana prasasti Jiyu dan Petak dikeluarkan! Dan dari kronik Tionghwa klenteng Sam Po Kong Semarang itu pula, didapatkan informasi, bahwa Demak telah menginvasi Majapahit pada tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi, delapan tahun sebelum penyerangan Sang Munggwing Jinggan yang mungkin bersekutu dengan keluarga Bhre Pandhan Salas III !

Dan menjadi sangat masuk akal jika Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya lantas mengeluarkan sebuah maklumat bahwa dirinyalah sekarang Raja Majapahit yang kembali terbebas dari dominasi Demak, walau wilayahnya sekarang hanya sebatas Wilwatikta, Janggala dan Kadhiri. Sehingga dia memakai gelar (abhiseka) Sri Wilwatikta Jenggala Kediri Prabhu Natha

Kronik Tionghwa klenteng Sam Po Kong Semarang menguraikan, bahwa pada tahun 1478, Jim Bun, putra selir Kung Ta Bu Mi, Raja Majapahit, menyerang istana Majapahit dan memperoleh kemenangan yang gilang gemilang. Setelah berhasil menjatuhkan Majapahit, diangkatlah seorang Raja bawahan di Majapahit bernama Nyo Lay Wa. Yang dimaksud dengan Kung Ta Bu Mi, tak lain adalah Bhre Krêtabhumi. Ini berarti, setelah Bhre Krêtabhumi berakhir masa pemerintahannya pada tahun 1478, Majapahit memang sudah kehilangan kedaulatannya dan menjadi wilayah Demak Bintara. Dan semenjak saat itu, Raja yang berkuasa di Majapahit adalah peranakan China bernama Nyo Lay Wa (1478-1486 M)

Disebutkan disana dalam catatan tersebut, Nyo Lay Wa tewas dalam sebuah kerusuhan yang terjadi pada tahun 1486. Dan disusul kemudian dengan keluarnya prasasti Jiyu oleh Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya seperti telah disebutkan diatas, yang merupakan sebuah maklumat kedaulatan Majapahit walau wilayahnya kini sebatas Wilwatikta, Janggala dan Kadhiri. Ditambah pula prasasti Petak yang menceritakan kehebatan Sang Mungwing Jinggan saat menggempur istana Majapahit hingga berhasil direbut kembali dari kekuasaan Demak Bintara, walau Sang Munggwing Jinggan, akhirnya gugur dimedan pertempuran.

Dan berlanjut, dalam kronik Tionghwa dicatat bahwa pada tahun 1517, Demak kembali melakukan penyerangan ke Majapahit yang sudah menyatakan lepas dari kekuasaannya. Penyerangan ini dipimpin oleh Yat Sun, putra Jim Bun. Raja Majapahit saat itu disebut dengan nama Pa Bu Ta La / Girindrawardhana. Yat Sun tak lain adalah Adipati Yunus yang dikenal sebagai Pangeran Sabrang Lor karena pernah menyerang ke wilayah utara, yaitu Malaka untuk menggempur Portugis pada tahun 1512, setahun setelah Malaka dikuasai Portugis. Pada prasasti Jiyu jelas ditemukan bahwa Girindrawarddhana menyebut dirinya sebagai Prabhu Natha. Pa Bu Ta La yang dimaksud dalam kronik Tionghwa jelas tak lain adalah Prabhu Natha alias Sri Wilwatikta Janggala Kadhiri alias Girindrawardhana Dyah Ranawijaya! Yang menjadi pertanyaan, mengapa penyerangan Demak ini begitu terlambat semenjak direbutnya tahta Majapahit dari tangan Nyo Lay Wa pada tahun 1486 dan baru diserang pada tahun 1517? Hal ini bisa dijawab bahwasanya, Demak sedang pontang-panting mengkonsolidasikan kekuatannya untuk menundukkan wilayah-wulayah Majapahit yang lain. Disamping juga membantu prajurid Cirebon dan Banten untuk menundukkan Pajajaran. Ditambah menghadapi kedatangan Portugis di Malaka. Konsentrasi Demak masih terfokus pada menyelamatkan wilayah sepanjang pesisir pantai utara yang strategis.

Majapahit di serang untuk kedua kalinya namun tampaknya serangan ini gagal. karena Girindrawardhana tercatat masih berkuasa sampai 1527, Namun kota dan istana Majapahit, habis dirampas oleh tentara Demak. melalui Pate Vira, seorang Adipati Tuban. Hal ini tercatat dalam catatan orang Portugis Suma Oriental. Pada tahun 1513, pengembara Portugis bernama Tome Pires mengunjungi Jawa Timur. Dia berdiam di Malaka dari 1512 sampai 1515 dan menuliskan kisah perjalanannya dalam buku Suma Oriental (Catatan Dunia Timur). Tome Pires mengatakan bahwa raja Jawa saat itu adalah Batara Vigiaya, dan raja sebelumnya adalah Batara Mataram, yang menggantikan ayahnya, Batara Sinagara. Informasi ini diperoleh Tome Pires dari Pate Vira (Adipati Wira), penguasa Tuban yang beragama Islam tetapi sangat setia kepada Batara Vigiaya.

Dan pada tahun 1527, saat Demak diperintah oleh putra Jim Bun, Tung Ka Lo, kembali dia mengirimkan angkatan perang Demak dibawah pimpinan putranya Toh A Bo untuk membumi hangguskan Majapahit. Tung Ka Lo bisa diidentifikasi sebagai Sultan Demak ke tiga Trênggana, sedangkan Toh A Bo bisa diidentifikasi sebagai Pangeran Timur, putra Sultan sendiri. Pembumihangusan ini terkait usaha Girindrawardhana yang hendak mengadakan kerjasama dengan Portugis, di tahun inilahah benear benar pembungihangusan majapahit, masyarakat yang tetap memegang ajaran asli leluhurnya di buru dan terpaksa lari mengungsi kehutan, gunung, menyebrang pulau & ketempat-tempat yang dirasa aman, Eksodus besar-besaran terjadi Inilah penyerangan ke tiga yang benar-benar melenyapkan Majapahit dari muka bumi.

Apa yang direkam semua Babad Jawa mengenai kehancuran Majapahit oleh serangan Demak adalah benar. sesuai dengan bukti-bukti dari arsip Kronik Tionghwa klenteng Sam Po Kong Semarang, catatan Portugis dan prasasti jiyu & petak dan kajian-kajian yang panjang, jadi sebnarnya sudah tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan tentang fakta riwayat runtuhnya majapahit. Sebuah peristiwa besar, peristiwa yang sanggup Menghancurkan ajaran budaya kebanggaan Nusantara yang di hormati selama berabad-abad, mereka datang dengan ajaran baru yang dibawa kaum tionghwa untuk menjajah budaya nusantara untuk kepentingan kekuasaan & keserakahan dengan cara yang jauh dari nilai adab, tatakrama, santun dan budi pekerti yang luhur, peristiwa ini akan terekam dalam dari generasi ke generasi.


kemana orang-orang majapahit sekarang.?

 

Setelah Majapahit dimusnahkan Para Agamawan, Para Bangsawan dan rakyat yang tetap memegang teguh keyakinannya berhasil mengungsi kehutan, gunung, menyebrang pulau dll, sebagian kelompok besar mengungsi ke Tengger termasuk putri selir Prabhu Brawijaya yang melarikan diri bersama sisa-sisa prajurid Majapahit dan sebagian penduduk majapahit. Sampai sekarang keturunan mereka masih ada disana, dikenal dengan nama suku Tengger, namun titik pengungsian orang majapahit sebagian besar mengungsi ke wilayah kerajaan Majapahit Kedaton timur yang berpusat di Lumajang.

Majapahit telah musnah & Wilayah bekas wilayah kekuasaan Majapahit menjadi wilayah kekuasaan kesultanan Demak, akan tetapi persaingan kekuasaan tetap berlangsung hingga kemudian Demak dikalahkan kerajaan Pajang, lalu Sultan Agung yang menjadi penguasa kerajaan Mataram. namun jauh di sebelah timur pulau Jawa, wilayah kerajaan Majapahit Kedaton timur di Lumajang menjadi tentram yang kelak pusat kota berpindah ke wilayah ujung timur disebut blambangan. namun nama Blambangan  baru muncul sekitar akhir tahun 1600an, yakni, awal kepemimpinan Prabu Tawang Alun

pada tahun 1625 Mataram membutuhkan kekuatan untuk menyerang VOC di Batavia, maka dibawah perintah Sultan Agung, Mataram menggempur Lumajang. dilumpuhkan. Mataram membawa prajurit Lumajang dan merampas harta yang kemudian digunakan dalam penyebuan kota Batavia. (Thomas Stanford Raffless dalam History of Java ( 509). Kita tahu bagaimana Sultan Agung gagal dalam menaklukan Batavia. Namun peristiwa ini dicatat dalam sejarah dan Sultan Agung jadi Pahlawan Nasional.

setelah penyerangan tersebut Lumajang terpaksa kembali pindah ibukota yaitu ke Tawang alit sekitar Jember. pada tahun 1635, 1636 dan 1640 pusat kerajaan di Tawang alit kembali diserang dirampok dan dijarah Mataram. Semua barang dan harta yang ada di istananya diambil dan penduduknya diambil juga untuk dijadikan budak. setelah penyerangan tersebut pusat kerajaan kembali berpindah ke ke ujung timur di Desa Macan putih, Kabat. Karena seringnya diserang seperti itu kemudian pusat kerajaan pindah ke Bayu, kemudian ke Macan Putih daerah Bayu dan Macan Putih terlindungi Gunung Raung dan Gunung Ijen. Di perbukitan sebelah barat Gunung Raung itulah kerajaan Macan Putih berdiri dan istananya terletak di puncak Gunung Raung. Dan setelah pindah kerajaan ini pun menjadi stabil kembali yang aman, Kerajaan Blambanganpun menjadi makmur.

Tetapi masalah besar itu datang kembali Tahun 1697 Desa Macan putih sebagai pusat kerajaan Blambangan diserang oleh I Gusti Anglurah Panji Sakti, raja Buleleng di Bali Utara, dengan bantuan Surapati Raja Blambangan Prabu Tawang Alun dikalahkan dan untuk sementara Ki Gusti Ngurah Panji Sakti menunjuk perwakilannya untuk memerintah Blambangan sementara, I Gusti Anglurah Panji Sakti memberikan kepada Cokorda Agung Mengwi untuk menguasai Kerajaan Blambangan setelah menikah dengan putri Raja Mengwi dan semenjak 1697 kerajaan Blambangan berada dibawah kekuasaan Kerajaan Mengwi, Kerajaan yang terletak di Bali. Penguasanya saat itu bernama Gusti Kuta Beda.

Pada tahun 1743, Raja Pakubuwana II dari Mataram menyerahkan Java’s Oosthoek (dari sebelah timur Malang sampai Banyuwangi ) kepada VOC sebagai perjanjian atas pengembalian tahtanya yang direbut pemberontak. Penyerahan kawasan ini berdasarkan atas sebuah klaim teritorial waktu penaklukan Mataram oleh Sultan Agung. yang pada Saat itu meliputi kawasan Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi

Pada awalnya VOC tidak terlalu peduli dengan wilayah ini. Namun ketika Inggris mendekati Blambangan untuk berbisnis dengan membuka kantor dagangnya di Ulupampang (Banyuwangi), maka VOC berniat mempertahankan wilayah ini. pada bulan Juni 1766 Hoge Regering memutusan untuk mengirim expedisi. 23 Maret 1767 ekspedisi Belanda tiba di Banyualit. Pertempuranpun terjadi Ratusan laskar Blambangan pimpinan Gusti Kuta Beda terbunuh. VOC menguasai benteng di Banyualit. Selat Bali mulai dari Meneng sampai Grajagan diblokir.

Jatuhnya Banyualit membuat orang Blambangan ingin menguasai wilayahnya sendiri, Namun Orang-orang Bali dibantu orang-orang Bugis dan Mandar melakukan penyerangan orang-orang Blambangan. terbayang sudah kacaunya suasana saat itu. menurut cerita ingatan masyarakat jawa timur secara turun temurun setelah orang Blambangan berhasil mengusir orang-orang Bali, Bugis dan Mandar lalu mereka harus berhadapan Serangan besar VOC. Prajurit Blambangan yang tertangkap digantung dipohon atau dibakar hidup hidup. Kota-kota yang dilewati selalu hancur lebur tanpa sisa. persedian pangan dan desa orang Blambangan dibumi hangus. Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi  penduduknya mengungsi ke hutan-hutan dan gunung-gunung. Dan tempat yang paling banyak menampung pengungsian itu adalah dusun Bayu. Disinilah benteng terakhir orang Blambangan.

Perlawanan rakyat Blambangan terhadap VOC masih tetap banyak, kuat dan tanpa ampun. Pasukan Kompeni dibuat frustasi menghadapi ini. Bahkan tanggal 18 Desember 1771 Kompeni kalah dalam penyerbuan ke benteng Bayu dibuat dengan kekuatan yang besar. Bayu diserang tanpa henti Pertempuran hidup matinya Blambangan dan dikenal dengan sebutan Puputan Bayu.

Dalam penyerbuan kali ini, VOC dipukul mundur. Jendral perangnya ditangkap dan di potong-potong. Kepalanya ditancapkan ke ujung tombak, dan kemudian diarak keliling desa. Tentara kompeni yang tersisa digiring ke parit-parit jebakan yang telah disediakan dan dihujam dari atas. tentara Eropa nya habis terbunuh dan yang tersisa melarikan diri dalam keadaan luka-luka ke Lateng.  Jika kita pernah mendengar daerah Pondok mayit di gunung raung, disinilah tempat digantungnya mayat prajurit Belanda yang dibunuh oleh para pejuang saat itu.

Dengan kekalahan ini VOC mulai mempersiapkan balasan pada Tanggal  5 0ktober 1772 Bayu dikepung dari semua penjuru. Semua pintu keluar masuk Bayu ditutup. Dibuat kelaparan dan tanpa bantuan pihak luar. Bayu diisolasi total. Dan akhirnya  Bayu digempur habis-habisan dengan tembakan-tembakan meriam. Pejuang-pejuang yang tertangkap  dibunuh, kepalanya dipotong dan ditancapkan di tonggak-tonggak pagar di sepanjang jalan . Tubuhnya digantung di pohon-pohon sepanjang hutan . Tersisa sekitar 2.505 orang yang masih hidup , laki dan perempuan dibawa ke Pangpang, untuk disiksa dan dirajam. Setengahnya dihukum mati dengan diikat batu dandilempar ke laut, sisanya dikirim ke Surabaya dan Batavia dijadikan budak .

Penduduk Blambangan yang tersisa memilih menyebrang ke Bali atau ke wilayah pegunungan di sebelah selatan atau baratdaya. Perang ini sendiri telah memakan korban tidak kurang 60.000 rakyat Blambangan yang gugur, hilang, atau menyingkir ke hutan. Untuk merebut Blambangan, khususnya untuk peperangan di Bayu ini, VOC telah menghabiskan dana sebesar dan Beberapa tahun kemudian VOC pun bangkrut dan perusahaan ini diambil alih oleh Negara Belanda.

Dalam History of Java, disebutkan kalau penduduk Blambangan tahun 1750 dihuni lebih dari 80.000 jiwa, namun di tahun 1881 tersisa hanya 8.000 jiwa.  penduduk yang selamat masih tersisa tinggal di Banyuwangi, Jember, Bondowoso, Situbondo dan Lumajang. Mereka ini dikemudian hari disebut orang Osing.

Osing sendiri asalnya diambil dari kata sing yang artinya tidak. Hal ini karena dari mereka yang tersisa ini trauma dan menjadi selalu resah dengan orang asing. Pengalaman mereka mengajarkan hal itu. Orang-orang Mataram telah menjual mereka pada Belanda. Orang Madura telah ikut mengeroyok mereka. Bali telah menjajah mereka. Bugis membantu Bali ikut menyerang mereka.

Bangsa Belanda selalu gagal membujuk orang-orang sisa Kerajaan Blambangan ini untuk bekerja sama. Sikap yang sama, juga ditujukkan saat awal-awal Orde Baru. Mereka masih menganggap, pemerintahan yang ada tidak jauh berbeda dengan penjajah. Mereka selalu berkelompok dan selalu mewaspadai kedatangan orang asing.

Pendudukan VOC di Blambangan tentu saja memerlukan banyak tenaga kerja untuk menjalankan usaha-usaha eksploitasi di Blambangan. Oleh karena itu, kemudian VOC mendatangkan banyak pekerja dari Jawa Tengah dan Madura dalam jumlah besar ke wilayah ini. Pemerintah juga perlu orang untuk membangun daerah ini, namun susah mendapatkan penduduk asli yang mau sehingga mereka membawa dari daerah lain, lama-lama penduduk asli blambangan makin terdesak. Mereka hanya mau bertani. Jauh dari orang asing.

Masyarakat yang malang ini semakin dihinakan dengan dibuatnya cerita Damarwulan dan Minakjinggo oleh kesultanan Mataram. Dalam kisah ini Bre Wirabumi digambarkan sebagai Minak Jinggo. Seorang raja bermuka merah dan bertabiat kasar, buruk rupa, pincang dan berbadan besar.

Dan sisa-sisa  keturunan prajurit dan bangsawan dari majapahit itu semakin menghilang di desa-desa di gunung dan hutan Jawa Timur. Mereka hanya mau menjadi petani. Mereka tidak ada yang jadi pedagang atau pegawai negeri karena mereka masih tidak percaya dengan pendatang. karena masih beranggapan, pemerintahan itu adalah penjajah. Sehingga menjadi wajar jika pada September 2012, jumlah penduduk miskin di Jawa Timur juga adalah yang terbesar se-Indonesia. persentase penduduk miskin Jawa Timur sebesar 13,08 % ( standar penduduk miskin nasional 11,66 %).

Namun waktu berjalan, para keturunannya, para generasi mudanya mulai bangga setelah tahu siapa dan bagaimana nenek moyangnya dulu. Sikap “Sing” ini sekarang mulai melunak, mulai percaya kepada republik ini, mereka sudah mulai mau ikut dalam percaturan Republik ini. Menjadi PNS, berdagang dan sebagainya.

Tembok bata merah

Menurut Prapanca dalam kitab Negarakertagama; keraton Majapahit dikelilingi tembok bata merah yang tinggi dan tebal. Didekatnya terdapat pos tempat para ponggawa berjaga. Gerbang utama menuju keraton (kompleks istana) terletak di sisi utara tembok, berupa gapura agung dengan pintu besar terbuat dari besi berukir. Di depan gapura utara terdapat bangunan panjang tempat rapat tahunan para pejabat negara,
sebuah pasar, serta sebuah persimpangan jalan yang disucikan.

Masuk ke dalam kompleks melalui gapura utara terdapat lapangan yang dikelilingi bangunan suci keagamaan. Pada sisi barat lapangan ini terdapat pendopo yang dikelilingi kanal dan kolam tempat orang mandi. Pada ujung selatan lapangan ini terdapat jajaran rumah yang dibangun diatas teras-teras berundak, rumah-rumah ini adalah tempat tinggal para abdi dalem keraton. Sebuah gerbang lain menuju ke lapangan ketiga yang dipenuhi bangunan dan balairung agung. Bangunan ini adalah ruang tunggu bagi para tamu yang akan menghadap raja. Ketiganya bagai kahyangan.Kompleks istana tempat tinggal raja terletak di sisi timur dipisahkan oleh lapangan yang luas, menjulang istana. anggota keluarga kerajaan, serta pejabat dan ningrat (bangsawan). berupa beberapa paviliun atau pendopo yang dibangun di atas landasan bata berukir, dengan tiang kayu besar yang diukir sangat halus dan atap yang dihiasi ornamen dari tanah liat. perumahan sepanjang tepi benteng. Di sebelah utara pasar. Di situ menetap patih Daha.  Di timur laut, rumah patih Wilwatikta, bernama Gajah Mada. Sebelah selatan puri, gedung kejaksaan tinggi. Sebelah timur perumahan Siwa, sebelah barat Budha. Terlangkahi rumah para menteri, para arya dan ksatria. Perbedaan ragam pelbagai rumah menambah indahnya pura.



gapura ini dipergunakan sebagai pintu belakang istana . Dugaan ini didukung adanya relief "Sri Tanjung" dan sayap gapura yang melambangkan penglepasan dan sampai sekarang di daerah Trowulan sudah menjadi suatu tradisi jika melayat orang meninggal diharuskan lewat pintu belakang

Sampai disini penggambaran Prapanca mengenai ibu kota Majapahit berakhir.
Sebuah catatan dari China abad ke-15 menggambarkan istana Majapahit sangat bersih dan terawat dengan baik. Disebutkan bahwa istana dikelilingi tembok bata merah setinggi lebih dari 10 meter serta gapura ganda. Bangunan yang ada dalam kompleks istana memiliki tiang kayu yang besar setinggi 10-13 meter, dengan lantai kayu yang dilapisi tikar halus tempat orang duduk. Atap bangunan istana terbuat dari kepingan kayu (sirap), sedangkan atap untuk rumah rakyat kebanyakan terbuat dari ijuk atau jerami.
Sebuah kitab tentang etiket dan tata cara istana Majapahit menggambarkan ibu kota sebagai; "Sebuah tempat dimana kita tidak usah berjalan melalui sawah". Relief candi dari zaman Majapahit tidak menggambarkan suasana perkotaan, akan tetapi menggambarkan kawasan permukiman yang dikelilingi tembok. Istilah 'kuwu' dalam Negarakertagama dimaksudkan sebagai unit permukiman yang dikelilingi tembok, dimana penduduk tinggal dan dipimpin oleh seorang bangsawan. Pola permukiman seperti ini merupakan ciri kota pesisir Jawa abad ke-16 menurut keterangan para penjelajah Eropa. Diperkirakan ibu kota Majapahit tersusun atas kumpulan banyak unit permukiman seperti ini.

Lihat Video Telusuri kota Majapahit

Ekspedisi Pamalayu


Kertanagara menjadi raja Singhasari sejak tahun 1268. Berbeda dengan raja-raja sebelumnya, ia berniat memperluas daerah kesatuanya sampai ke luar Pulau Jawa. Gagasan tersebut dimulai tahun 1275 dengan pengiriman pasukan di bawah pimpinan Indrawarman dengan 14.000 pasukan singasari untuk menjalin hubungan kerjasama dalam pertahanan.


Kekuasaan Kubilai Khan raja Mongol (atau Dinasti Yuan) sedang mengancam wilayah Asia Tenggara. Untuk itu, Maka Kertanagara mencoba menyatukan Melayu dan Jawa sebelum datang serbuan dari pihak asing tersebut


Nagarakretagama mengisahkan bahwa tujuan Ekspedisi Pamalayu sebenarnya untuk menjalin kerjasama secara baik-baik. Namun, tujuan tersebut mengalami perubahan karena raja Dharmasraya ternyata menolak sebab akan mengancam kedaulatan terhadap Kerajaan  Dharmasraya
sebagai penguasa Melayu

maka Indrawarman mengangkat  Kebo Anabrang seorang melayu menjadi perwira Singhasari yang mewakili orang melayu untuk menentang kebijakan raja. Kebo Anabrang, artinya “kerbau yang menyeberang”  ini bukan nama asli melainkan sebuah kiasan yang mewakili orang-orang yang menentang dari kebijakan raja. pergolakan memanas pada tahun 1284 sampai akhirnya terjadi pertempuran besar tahun1286 antara pasukan pendukung raja Dharmasraya dengan kebo anabrang yang di dukung oleh pasukan Indrawarman. bersamaan setelah wilayah bali berhasil menjadi daerah singasari pada tahun 1284. keberhasilan Ekspedisi Pamalayu pada tahun 1286.di tandai dengan penaubatan Maharaja Tribhuwanaraja dan dikirmnya  4.000 pasukan khusus singasari dan arca sebagai hadiah persahabatan dari Maharajadhiraja Kertanagara.
Jadi, sasaran Ekspedisi Pamalaya adalah menyatukan Kerajaan Melayu. Nagarakretagama menyebut Melayu merupakan daerah bawahan di antara sekian banyak daerah kekuasaan.

Pada tahun 1289 Kaisar Kubilai Khan mengirim utusan ke Singhasari meminta agar Jawa mengakui kedaulatan Mongol. Namun permintaan itu ditolak tegas dan memotong telinga utusan oleh Kertanagara sebagai bukti penolakan.

1292 Wiraraja mengirim surat pada Jayakatwang, yang berisi saran supaya  segera melaksanakan penyerangan, karena saat itu Singhasari sedang lemah di sebabkan sebagian besar pasukan berada di luar jawa,

Jayakatwang melaksanakan saran Aria Wiraraja. Ia mengirim pasukan kecil yang dipimpin Jaran Guyang menyerbu Singhasari dari utara. Raden Wijaya berhasil mengalahkan serangan pertama yaitu serangan Pasukan Jaran Guyang   Namun sesungguhnya pasukan kecil ini hanya bersifat pancingan supaya pertahanan kota Singhasari kosong. Pasukan kedua Jayakatwang menyerang Singhasari dari arah selatan.

yang lebih besar Dalam serangan  ini, Kertanagara tewas di dalam istananya. dan Raden Wijaya melarikan diri hendak berlindung ke sebelah utara Singhasari. Namun karena terus dikejar-kejar musuh ia memilih pergi ke arah timur. ia berhasil menyeberangi Selat Madura untuk bertemu Arya Wiraraja penguasa Songeneb - Madura.

Wiraraja menyampaikan berita kepada Jayakatwang bahwa Wijaya menyatakan menyerah kalah. Jayakatwang  menerimanya dengan senang hati. Ia pun mengirim utusan untuk menjemput Wijaya, Wijaya meminta Hutan Tarik di sebelah timur Kadiri untuk dibangun sebagai pemukimanya, Jayakatwang segera mengabulkannya.di bantu orang-orang Songeneb untuk membuka hutan tersebut. dan mendirikan desa yang diberi nama Majapahit.

Pada tahun 1293 pasukan mongol tiba di jawa dengan tentara tatar untuk menghukum Kertanagara yang berani menyakiti utusan.
mengetahui bahwa Kertanagara telah tewas  maka hukuman jatuh kepada  Raden Wijaya sebagai ahli waris dan sebagai hukuman Raden Wijaya harus menyerahkan dua putri singasari sebagai tanda tunduk kepada mongol. Raden Wijaya menyanggupi tuntutan tersebut dengan syarat pasukan mongol mendukung pembalasan Raden Wijaya kepada Jayakatwang.

Raden Wijaya mendirikan kerjaan majapahit sebagai penerus singasari dan meminta kepada Maharaja Tribhuwanaraja sebagai penguasa melayu  mengakui kedaulatan kerajaan majapahit. namun Maharaja  dan Indrawarman sebagai komandan Ekspedisi Pamalayu menolak maka terjadilah pertempuran yang dimenangkan pasukan kebo anabrang. Indrawarman melarikan diri ke Simalungun dan Maharaja Tribhuwanaraja melarikan diri ke Bintan. pasukan kebo anabrang dan rombongan Amoghapasa kembali ke jawa dengan membawa 2 putri raja Dharmasraya dara jingga dan bermukim di desa Majapahit.

Jayakatwang yang mendengar persekutuan itu segera mengirim pasukan untuk menghancurkan mereka. Namun pasukan itu justru berhasil dikalahkan Selanjutnya, gabungan pasukan Mongol, melayu, madura, dan pasukan singasari, bergerak menyerang ke kota Kerajaan Kadiri. Jayakatwang akhirnya menyerah dan ditawan dalam kapal Mongol.

Akhirnya pihak mongol mengetahui pemberontakan Jayakatwang atas saran Aria Wiraraja. maka pasukan mongol  akan menghukum Aria Wiraraja dan meminta kedua putri Dharmasraya sebagai mana yang telah di janjikan Raden Wijaya. namun pada saat itu kerajaan majapahit dalam kekuatan penuh dimana dengan kembalinya pasukan singasari ke jawa dan di tambah pasukan melayu yang di pimpin kebo anabrang yang tiba di majapahit  untuk bersiap mengamankan majapahit dan hampir seluruh pasukan yang di datangkan Aria Wiraraja. dari madura bersiap melawan pasukan mongol.

Pararaton menyebutkan bahwa pasukan Pamalayu yang berangkat tahun 1275 akhirnya pulang ke Jawa tahun 1293.

Perang Paregreg


Perang Paregreg

Paregreg artinya perang setahap demi setahap dalam tempo lambat. Pihak yang menang pun silih berganti. Kadang pertempuran dimenangkan pihak timur, kadang dimenangkan pihak barat.

Kerajaan Majapahit berdiri tahun 1293 berkat kerja sama Raden Wijaya dan Arya Wiraraja. Pada tahun 1295, Raden Wijaya membagi dua wilayah Majapahit untuk menepati janjinya semasa perjuangan. Sebelah timur diserahkan pada Arya Wiraraja dengan ibu kota di Lumajang.

Pada tahun 1316 Jayanagara putra Raden Wijaya menumpas pemberontakan Nambi di Lumajang. Setelah peristiwa tersebut, wilayah timur kembali bersatu dengan wilayah barat.

Ketika Indudewi meninggal dunia, jabatan Bhre Lasem diserahkan pada putrinya, yaitu Nagarawardhani. Tapi Wikramawardhana juga mengangkat Kusumawardhani sebagai Bhre Lasem. Itulah sebabnya, dalam Pararaton terdapat dua orang Bhre Lasem, yaitu Bhre Lasem Sang Halemu istri Bhre Wirabhumi, dan Bhre Lasem Sang Ahayu istri Wikramawardhana.

Sengketa jabatan Bhre Lasem ini menciptakan perang dingin antara istana barat dan timur, sampai akhirnya Nagarawardhani dan Kusumawardhani sama-sama meninggal tahun 1400. Wikramawardhana segera mengangkat menantunya sebagai Bhre Lasem yang baru, yaitu istri Bhre Tumapel.

Setelah pengangkatan Bhre Lasem baru, perang dingin antara istana barat dan timur berubah menjadi perselisihan. Menurut Pararaton, Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana bertengkar tahun 1401 dan kemudian tidak saling bertegur sapa.

Perselisihan antara kedua raja meletus menjadi Perang Paregreg tahun 1404

Akhirnya, pada tahun 1406 pasukan barat dipimpin Bhre Tumapel putra Wikramawardhana menyerbu pusat kerajaan timur. Bhre Wirabhumi menderita kekalahan dan melarikan diri menggunakan perahu pada malam hari. Ia dikejar dan dibunuh oleh Raden Gajah alias Bhra Narapati yang menjabat sebagai Ratu Angabhaya istana barat.

Raden Gajah membawa kepala Bhre Wirabhumi ke istana barat. Bhre Wirabhumi kemudian dicandikan di Lung bernama Girisa Pura.

Setelah kekalahan Bhre Wirabhumi, kerajaan timur kembali bersatu dengan kerajaan barat. Akan tetapi, daerah-daerah bawahan di luar Jawa banyak yang lepas tanpa bisa dicegah. Misalnya, tahun 1405 daerah Kalimantan Barat direbut kerajaan Cina. Lalu disusul lepasnya Palembang, Melayu, dan Malaka yang tumbuh sebagai bandar-bandar perdagangan ramai, yang merdeka dari Majapahit. Kemudian lepas pula daerah Brunei yang terletak di Pulau Kalimantan sebelah utara.

Selain itu Wikramawardhana juga berhutang ganti rugi pada Dinasti Ming penguasa Cina. Sebagaimana disebutkan di atas, pihak Cina mengetahui kalau di Jawa ada dua buah kerajaan, barat dan timur. Laksamana Ceng Ho dikirim sebagai duta besar mengunjungi kedua istana. Pada saat kematian Bhre Wirabhumi, rombongan Ceng Ho sedang berada di istana timur. Sebanyak 170 orang Cina ikut menjadi korban.

Atas kecelakaan itu, Wikramawardhana didenda ganti rugi 60.000 tahil. Sampai tahun 1408 ia baru bisa mengangsur 10.000 tahil saja. Akhirnya, Kaisar Yung Lo membebaskan denda tersebut karena kasihan. Peristiwa ini dicatat Ma Huan (sekretaris Ceng Ho) dalam bukunya, Ying-ya-sheng-lan.

Setelah Perang Paregreg, Wikramawardhana memboyong Bhre Daha putri Bhre Wirabhumi sebagai selir. Dari perkawinan itu lahir Suhita yang naik takhta tahun 1427 menggantikan Wikramawardhana. Pada pemerintahan Suhita inilah, dilakukan balas dendam dengan cara menghukum mati Raden Gajah tahun 1433.